[Hello Stanger] Get Lost in Ujung Kulon (1)

Tiga hari di pulau tak berpenghuni, cukup membuat saya menghilang dari peradaban untuk sejenak. Rasanya ruar biasa.. hehee

Saat itu H+1 lebaran, jalanan Jakarta tidak sepadat ketika hari biasa. Tidak ada aktivitas orang kantoran yang lalu lalang memadati jalanan dan trotoar. Saya berangkat sendiri. Ini peetama kalinya saya pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi bersama orang lain yang tak satu pun saya jumpai sebelumnya. Saya sangat bersemangat. Saya penasaran, orang-orang seperti apa yang akan saya temui.

Pertemuan kami di Dunkin Donuts Plaza Semanggi. Tiba disana, saya tidak bisa membedakan yang mana orang yang menunggu ‘teman’ lainnya untuk berangkat ke Ujung Kulon dan mana yang memang pengunjung Dunkin. Saya hanya menerka dari gaya pakaian ( siap liburan) dan tas bawaan mereka. Saya mendekati meja bundar di depan saya, ada dua orang dsitu sedang bercakap – cakap santai. Saya beranikan diri menyapa dan ternyata benar, mereka salah satu dari kami yang akan ke Ujung Kulon.

Dari perkenalan, mereka adalah Jaki dan Ike. Setelah bercakap-cakap khas orang yang baru kenalan, ternyata mereka jg baru kenal di meja bundar tadi. Dan mereka pun datang sendiri. Merasa senasib, kami akhirnya duduk bertiga di bus. Saling ngobrol kesana kemari. Tidak susah membuat suasana percakapan kami pecah. Cerita traveling memang selalu seru sebagai penghantar keakraban.

Bus kami akhirnya berangkat setelah perlengkapan dan kebutuhan makanan dimasukkan ke bagasi bus. Banyak banget ternyata, tentu saja karena akmi ternyata mencapai 50 orang. Yuhuuu…
Mba Evi sebagai dalang dari perjalanan ini. Kami sharecost jadi susah senang dirasakan rame-rame. Tapi sebenarnya sebagian besar andil diambil alih Mba Evi. Bus perlahan melaju di jalanan Jakarta dan meninggalkan kota. Kami menuju Ujung Kulon.

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berada di wilayah Banten yang menjadi ujung barat Pulau Jawa. Untuk mencapai TNUK  cukup melakukan perjalanan darat selama 6 jam dari Jakarta. Agar waktu lebih efisien berangkatlah malam hari, sehingga kita bisa beristirahat di bus dan bangun-bangun udah nyampe di Dermaga Sumur. Disinilah titik awal perjalanan ini akan dipenuhi dengan naik kapal, naik kapal lagi.

Saya selalu meyakini bahwa indahnya melakukan perjalanan bergantung dengan siapa kita melakukannya dan bagaimana kita memaknainya. Beruntungnya saya, saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Yah, luar biasa unik. Orang asing yang kini menjadi teman perjalanan. Kami berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan dan gaya hidup. Namun, di Pulau tak berpenghuni ini, kami menyatu dalam canda tawa dan susah senang.

Berhubung kami mencapai 50 orang maka bus yang mengangkut kami menuju TNUK adalah bus besar. Sebenarnya siy tidak masalah, namun setelah melewati perjalanan ini dan melihat kontur jalan yang menanjak dan berkelok  semakin mendekati daerah Banten, menurut saya lebih cocok menggunakan mobil pribadi atau mobil elf. Karena kalau menggunakan bus besar, badan bus akan terbanting ke kiri dan ke kanan seolah oleng. Sempat juga bus yang kami tumpangi harus parkir sebentar di daerah Serang karena busnya mogok. Ughh.. mata udah hampir merem tp harus melek lagi karena semua pada turun dan kalaupun menunggu didalam bus keadaannya panaaass. Tengah malam di Serang, jalanan sudah sepi, dan kami harus menunggu pak supir dan asistennya memperbaiki mesin bus.

Perjalanan masih panjang. Setelah yakin bus sudah siap melaju, kami masuk kembali ke dalam bus. Mengambil posisi terbaik untuk tidur. Syukur saja kami aman sampai tujuan.

Sekitar jam 4 pagi kami tiba di Dermaga Sumur, belum ada aktivitas di daerah ini. Setelah menurunkan barang-barang dari bus kami berjalan menuju dermaga yang tidak terlalu jauh. Fyi, kami membawa perbekalan bahan makanan mentah dari Jakarta. Hal ini tentu saja untuk menghemat biaya perjalanan. Kalau dihitung-hitung biaya makan disana jauh lebih mahal dibanding kita bawa bahan makanan dan tinggal bayar upah masak untuk ibu-ibu yang jadi koki kita disana.

Dermaga ini ternyata gelap banget, ga ada lampu sama sekali. Permukaan laut saja tak terlihat, hanya deru ombak yang menghempas pantai, itu saja yang terdengar. Kami menyebar di sekitar dermaga untuk mencari posisi duduk sambil menanti mentari pagi datang. Kami akan berlayar sekitar pukul 7 pagi. Saya duduk di saung dekat dermaga bersama teman-teman. Berkenalan menjadi topik hangat untuk membunuh gelap menuju terang sang mentari datang.
Lampu senter kecil menjadi penerang saung itu. Rasa kantuk saya mulai hilang dengan pembicaraan hangat. Apalagi sarapan pagi datang pukul 4 pagi. Menyantap makanan yang terlihat seadanya ini rasanya nikmaaat banget. (Lapar apa doyan?!!) Hahahaa..

Pagi kini datang, wajah dermaga ini mulai terlihat, ada beberapa kapal kecil bersender di bibir dermaga. Tak jauh dari bibir pantai, banyak tambak yang bertebaran. Melihat hanya kapal-kapal kecil yang bersender, kami sontak berfikir kalau kami akan menyeberang ke pulau seberang menggunakan kapal kecil ini. Saya sempat tak habis pikir, apa bener!
Satu persatu kami naik ke kapal kecil. Karena kami banyak dan muatan kapal sedikit, jadi dibagi menjadi 3 kloter untuk dihantarkan ke kapal yang lebih besar. Kapal yang lebih besar tidak bisa bersender tepat di bibir pantai, kapal itu disenderkan di dekat tambak sekitar 100 meter dari bibir pantai.
Saya naik kloter 2. Kapal kecil melaju perlahan dan mulai meninggalkan Sumur. Sesampainya di kapal yang lebih besar, kami bergabung dengan kloter 1. Cukup lama kami menunggu kloter 3 nyampe di kapal besar. Kami cukup bersabar sambil menikmati laut yang tenang.
Sang mentari mulai menunjukkan kemegahannya. Semburat cahaya keemasan perlahan muncul dari Timur. Menikmati matahari terbit dari sini cukup memukau kami. Sungguh sunrise kali ini sempurna. Cuaca pagi ini dengan kehadiran mentari memang sangat mendukung perjalanan kami.

image

Kehangatan sunrise di dermaga Sumur

Tak lama berselang, kloter 3 muncul dengan wajah yang tak secerah sang surya pagi ini. Kenapa?
Mbak Evi mulai cerita sedikit akan insinden yang terjadi yang hampir merusak mood perjalanan ini. Eits, tapi itu jadi satu cerita dan pengalaman berharga jadinya.
Kloter 3 lama tiba di kapal karena harus beli solar dulu, lah?! Kenapa… setelah mba Evi konfirmasi ke pemilik kapal, ternyata pemilik kapal bilang kalau tidak akan semua destinasi yang telah disepakati sebelumnya akan kita datangi, solar ngga cukup! Loh loh… kita kan udah bayar penuuh, sedikit emosi kita membuncah. Namun bagaimana pun kita tak ingin berdebat panjang dan ngga ingin perjalanan ini rusak karna solar.. yah, akhirnya kita beli tambahan solar lagi agar semua destinasi yang ingin kita kunjungi dapat dijangkau.

Ah,sudahlah, nikmati saja sajian indah pagi ini. Sang surya yang tanpa malu malu memecah keheningan pagi ini.
Setelah semuanya tiba, kapal bersiap untuk lepas landas. Kami kadang terdiam dalam hening dan hanya menikmati suasana kapal. Mendengar ombak yang berderu dibelah kapal. Memandangi dermaga Sumur yang kian lama menjauh. Dan satu yang penting, kami akan hidup tanpa sinyal dan medsos selama 3 hari di ujung barat Pulau Jawa.Bisakahh? Lets do it. 😀 Yeeehaaa, Kini saatnya Get lost in Ujung Kuloooon.. !

Post Navigation

 

One Thought on “[Hello Stanger] Get Lost in Ujung Kulon (1)

  1. Apriza trilia on July 26, 2015 at 11:28 pm said:

    Kak maaf aku liat thesis kakak di web unpad tentang gcg ya ? Aku boleh tanya2 kak ? Boleh minta kontak kak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *