Categories
Travelling

Yogyakarta, Harmonisasi Budaya, Seni Dan Sejarah Yang Exotic (Part 2)

Sebenarnya agenda kami hari itu, setelah berkeliling kraton ratu boko dan prambanan, kami akan langsung ke pantai Parangtritis, namun karena hari ternyata sudah agak sore yaitu sekitar pukul 3 sore dan langit pun agak mendung pertanda kota akan diguyur hujan, maka kami mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan ke parangtritis. Penundaan ini didukung juga sama ibu-ibu yang saya tanyai ketika menunggu bus trans Jogja datang, menurut beliau kalau jam segini memang sudah kesorean kalau tidak berniat menginap di parangtritis karena jarak yang ditempuh dari Prambanan menuju Parangtritis lumayan jauh, kami harus melalui terminal giwangan terlebih dahulu. Maka, kami memutuskan untuk menikmati sekitaran kota Jogja saja, maka kami menunggu bus TransJogja yang jalur menuju malioboro.

Kami begitu menikmati suasana Jogja yang tergambar di sekitar Maliboro, makan pecel di sekitar emperan pasar Beringharjo ternyata nikmat sekali, sayang Tommy tidak mau jadi saya makan sendiri saja, hehe..

pecel depan pasar beringharjo

Hari kedua saya di Jogja, saya sudah mulai hafal jalanan apalagi yang disekitaran maliboro berkat pencarian penginapan yang tak kunjung nemu, tanpa sadar kami memang sudah mengelilingi setiap gang/jalan yang kira-kira ada tempat penginapan, walau capek tapi sangat menyenangkan.

BENTENG VREDEBURG

Karena dekat dengan malioboro, kami menyempatkan untuk mengunjungi benteng Vredeburg, dikawasan benteng ini ada museum yang dibuka untuk umum, komplek benteng tidak terlalu luas, berhubung hujan, kami juga bisa beristirahat sejenak di teras museum.. hihi..

Kawasan Benteng Vredeburg Museum Benteng Vredeburg

ALUN-ALUN SELATAN

Setelah beberapa kali memakai jasa becak atau delman, sekarang kami mau coba pakai jasa taksi saja untuk menuju alun-alun selatan karena tempatnya memang lumayan jauh. Setelah semakin mendekati alun-alun, cahaya terang benderang berwarna warni semakin jelas, ya.. banyak becak yang disulap menjadi transportasi wisata malam dengan dihiasi lampu-lampu terang berbentuk lucu-lucu seperti doraemon, angrybird, hello kitty dan banyak lagi.

Becak Lampu warna warni

Semua becak –becak yang dihias ini disewakan dan rata-rata sudah dibandrol 25 ribu rupiah 2 kali keliling lapangan alun-alun selatan ini, satu becak bisa menampung 6-8 orang, jadi kalau rame-rame bisa lebih irit. Wisata malam alun-alun selatan juga sangat cocok untuk wisata keluarga yang murah meriah dan sangat menyenangkan. Walaupun baru turun hujan, tidak mengurangi keramaian pengunjung yang datang. Tidak jarang, area ini jadi macet karena becak hias ini memang menggunakan jalur transportasi umum.

Selain becak hias, ada permainan masangin. Permainan ini yaitu dengan menutup mata menggunakan kain yang bisa disewa seharga 4 ribu rupiah, kita berjalan diantara dua beringin besar yang tumbuh di tengah-tengah alun-alun selatan. Konon katanya, kalau kita bisa melewati antara beringin dengan mata ditutup, maka permohonan kita akan dikabulkan. Namanya juga mitos, ada yang percaya ada yang tidak, namun banyak orang yang penasaran dan tidak lengkap rasanya tidak main masangin bila ke alun-alun selatan.

Cukup lama kami menikmati wisata malam alun-alun selatan sehingga tidak sadar waktu sudah pukul 11 malam, yang artinya kami harus kembali ke kontrakan dan istirahat.

PANTAI PARANGTRITIS dan DEPOK

Hari ketiga sekaligus hari terakhir kami di Jogja,

Untuk menuju pantai parangtritis, kami harus naik bus dari terminal giwangan. Terminal giwangan merupakan terminal yang bersih dan tertata rapi, kami menuju terminal giwangan dari kontrakan (di daerah UGM) menggunakan bus TransJogja. Sesampainya di terminal giwangan, kami sarapan terlebih dahulu. Disekitar terminal banyak kios rumah makan yang sudah tertata rapi, tinggal kita mau pilih yang mana. Walaupun di terminal yang terkadang terkesan kotor,namun di sini sangat jauh dari kesan tersebut, karena semuanya rapi. Saya salut dengan hal ini. Hehe..

Tidak susah mencari bus menuju parangtritis, cari saja bus yang di kaca depannya sudah tertulis parangtritis. Karena bus ekonomi, jadi bus ke parangtritis ini mirip seperti metromini kalau di Jakarta. Bus berangkat setelah 20 menit menunggu. Kami menikmati perjalanan itu walaupun lumayan panas dan jarak tempuh yang lumayan jauh, apalagi busnya masih suka berhenti di beberapa pos menunggu penumpang.

Dengan penuh kesabaran, jalanan yang seakan tak berujung mulai menunjukkan kejelasan bahwa kami mulai memasuki kawasan parangtritis dan bus berhenti di terminal tepat di gerbang masuk pantai Parangtritis. Dengan membayar 24 ribu rupiah untuk dua orang, kami bergegas turun dan masuk ke kawasan pantai.

Katanya, tidak lengkap rasanya ke Jogja kalau tidak sampai di pantai parangtritis yang terkenal dengan legenda Nyai Roro Kidul nya. Namun, jujur sesampainya di bibir pantai, agak kurang dari ekspektasi saya, karena pemandangan yang saya dapat di sekitar pantai tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. Sepanjang pesisir pantai banyak sampah yang bertebaran, saya tidak tahu apakah pengunjung yang ramai berdatangan itu sembarangan buang sampah atau bagaimana, tapi pantai ini benar-benar kurang terawat. Menurut saya sangat disayangkan sekali, namanya sudah terkenal namun perawatannya terbengkalai. Tidak banyak hal yang bisa kami nikmati disini, selain angin pantai yang menyapu air sampai ke bibir pantai, delman atau kuda yang disewakan untuk berkeliling sepanjang pantai, dan ada juga ATP yaitu seperti motor beroda empat yang bisa dikendarai oleh 2 orang.

pantai parang tritis

Setelah menghabiskan satu buah kelapa muda, kami memutuskan untuk ke pantai Depok untuk menikmati lezatnya makan dipinggir pantai dengan harga miring. Bagaimana caranya ke pantai Depok? Sejenak kami keras berfikir, karena memang tidak ada transportasi umum ke sana, tanya ke penjual es kelapa muda, katanya biasanya ada kereta wisata yang berkeliling parangtritis depok, namun hari itu kereta wisatanya tak kunjung kelihatan. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan tukang ojek, dengan tarif 25 ribu rupiah per ojek pulang pergi, kami berangkat menggunakan dua ojek.

Saya sangat menikmati sepanjang perjalanan menuju pantai depok, jalan yang bagus dan lurus ke depan dan tidak kelihatan ujungnya, di samping kiri kanan jalan terhampar padang rumput yang sebagian berpasir, seakan berada di daerah yang berbeda. Kalau saya lihat sepintas, beberapa plang yang kami lewati ternyata menyediakan jasa pemotretan prewedding, brarti tempat itu juga sering digunakan untuk prewed, yaahh.. memang bagus dan exotic.. hehe..

Sekitar 15 menit berjalan,tibalah di pantai depok, kapal-kapal nelayan banyak terlihat di sekitar pantai dan banyak rumah makan di sepanjang pinggiran pantai, pantai depok jauh lebih bagus daripada pantai parangtritis, pantainya masih bersih dan pasir hitamnya juga bersih. Mungkin karena belum terlalu banyak orang yang tahu dan tidak semua orang bisa menjangkau tempat itu karena transportasi umum tidak memadai.

Kami langsung mencari tempat makan yang nyaman, dan kami memilih rumah makan seafood Sumilir, berdasarkan rekomendasi seorang teman juga tentunya. Lokasinya tepat menghadap laut lepas di tepi pantai, deru ombak yang lumayan besar sampai kedengaran. Menikmati makanan seafood diiringi deru ombak memang sangat berbeda rasanya dan tambah nikmat.

Makan di pantai depokMenu makanan banyak dan bisa sampai porsi besar namun harga tetap terjangkau dan sangat murah. Kami sangat puas menikmati makanan disini. Perut kenyang hati senang.

Berhubung kami janji ke bapak ojek hanya untuk makan saja di pantai Depok, bapak ojek bersedia menunggu, jadi kami memang tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan pantai Depok. Segera kami kembali menemukan bapak ojek. Ojek melaju kencang, kembali melewati jalan yang lurus dan seakan tanpa ujung itu dengan sengatan matahari yang membakar kulit.

Kami tiba kembali di Parangtritis dan menaiki bus yang akan menghantar kami kembali ke kota Jogja. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih satu jam, dan kecepatan bus ini sungguh luar biasa, sampai sampai saya membayangkan saya lagi naik rolling coster. Haha… pak supirnya ganas..

Akhirnya kami tiba di stasiun giwangan dengan selamat, dan kembali mengantri bus transjogja untuk menuju malioboro. Karena jadwal kereta kami brangkat malam pukul 20.30 maka kami masih banyak waktu untuk berburu oleh-oleh.

Pusat perbelanjaan batik di Jogja ada di pasar beringharjo, di pasar ini kita bisa menemukan banyak sekali batik dengan harga miring, sudah pasti kita harus berani tawar menawar. Tapi pasar beringharjo sekitar pukul 4 sore sudah mulai tutup, sehingga sesampainya kami di pasar itu, beberapa toko sudah tutup walaupun pengunjung masih sangat ramai, sungguh pasar ini ramai sekali. Tidak dapat batik, makan pecel dulu di depan pasar beringharjo, yummyyy…

Persis di depan pasar beringharjo, masih ada pusat perbelanjaan batik dan pernak pernik khas Jogja, yaitu Mirota Batik. Di Mirota kita akan menemukan banyak batik dengan kualitas yang baik begitu juga dengan pernak perniknya. Namun di tempat ini, semua produknya sudah dibandrol dengan harga pas, jadi tidak ada sistem tawar menawar. Walaupun begitu, pengunjung tidak akan kecewa, karena harganya sesuai dengan kualitas barangnya. Mirota masih buka sampai malam sekitar pukul 19.30. Puas berbelanja, tidak lupa kami membeli bakpia sebagai oleh-oleh, diantar oleh becak dengan 5 ribu rupiah, kami menikmati suasana malam terakhir di kota Jogja.

Makan malam kami di stasiun kereta lempuyangan sambil menunggu kereta yang akan menghantarkan kami kembali ke Bandung.

menunggu kereta di stasiun Lempuyangan

Rasanya tidak ingin cepat-cepat meninggalkan Jogja, kota yang penuh dengan ketentraman, keramahan dan kebaikan masyarakatnya. Masih banyak tempat yang belum saya kunjungi di Jogja, dan suatu saat ingin kembali ke kota ini. Perjalanan ini sungguh meninggalkan kesan yang indah dan akan sangat saya rindukan. Terima kasih Jogja.