Yogyakarta, Harmonisasi Budaya dan Sejarah yang Exotic (Part 1)

Keinginan menginjakkan kaki di Yogyakarta akhirnya tercapai. Perjalanan ini dimulai dari hunting informasi dari berbagai sumber dan pengalaman orang-orang yang sudah travelling ke sana. Dan akhirnya saya dan Tommy berangkat juga. Meeting point kami di Bandung, berangkat hari rabu malam tanggal 14 November 2012 dan pulang sabtu malam tanggal 17 November 2012.

Kami berangkat menggunakan kereta api kahuripan (ekonomi) dari stasiun Kiara condong menuju stasiun Lempuyangan. Tipe perjalanan kami memang sengaja ala ransel alias ekonomi dan serba hemat. Sangat bersyukur karena kami masih dapat tiket murah, 150 ribu rupiah pulang pergi untuk berdua. Kami sengaja mengambil jadwal kereta yang paling malam agar waktu perjalanan bisa digunakan untuk tidur dan sesampai disana bisa langsung mulai explore Jogja.

Berangkat pukul. 20.30 dan sampai di stasiun Lempuyangan pukul 07.50 esok harinya. Langsung naik becak ke Malioboro mencari penginapan, berhubung long weekend, Malioboro ternyata sudah dipenuhi para pelancong, dan semua mencari penginapan sama seperti kami. Setelah keliling kesana kemari, akhirnya kami menyerah, semua penginapan full booked. Awalnya saya pengen nangis sudah membayangkan kami akan tidur dimana (maklum newbie dalam hal backpacker haha…).

Karena tidak dapat juga, setelah sarapan makan nasi kucing di sekitaran Malioboro, akhirnya kami memutuskan menghubungi seorang teman yang memang tinggal di Jogja dan kami diberi tumpangan untuk menginap dan menitipkan ransel.

Nasi kucing harganya murah, dengan merogoh kocek dua ribu rupiah sudah bisa menikmati sebungkus nasi kucing. Nasi kucing sebenarnya nasi dengan lauk ikan teri atau tempe. Disebut nasi kucing mungkin karena porsinya yang mungil, bagi saya cukup mengisi perut, tapi bagi Tommy, untuk mengobati rasa lapar butuh 2 atau 3 bungkus nasi kucing. Setelah bertemu dengan teman, kami bersih-bersih dan bersiap untuk menikmati keindahan Jogja.

BOROBUDUR

Destinasi pertama kami adalah Borobudur, sebenarnya Borobudur secara administrasi berada di wilayah Jawa Tengah, namun karena jarak tempuh ke Borobudur lebih dekat dari Jogja daripada semarang, maka kebanyakan orang dan termasuk kami memasukkan Borobudur dalam trip Jogja kami.

Menuju Borobudur tidak terlalu sulit, kami naik trans Jogja menuju terminal Jombor terlebih dahulu. Ongkos trans Jogja hanya tiga ribu rupiah per orang dan seperti layaknya seperti transJakarta kalau transit tidak usah bayar lagi. Sesampainya di terminal Jombor, kami langsung mencari bus menuju terminal Borobudur. Jarak tempuh dari terminal Jombor ke terminal Borobudur sekitar 1,5 jam. Bus yang menuju Borobudur non ac (ekonomi), ongkosnya 12 ribu rupiah per orang, dan bus terakhir dari Borobudur kembali ke Jogja pukul 18.00, jadi sebelum pukul 18.00 kami sudah harus berada di terminal Borobudur lagi kalau tidak mau bermalam di Borobudur.

Setelah naik bus, kami langsung ambil posisi duduk di samping Pak supir. Sepanjang perjalanan Pak Supir juga cerita beberapa tempat wisata yang menarik di Jogja dan melewati beberapa tempat yang dilewati lahar dingin akibat erupsi gunung Merapi setahun yang lalu. Bus sempat berhenti dulu di Muntilan untuk menunggu penumpang, tapi tidak terlalu lama.

Sesampainya di terminal Borobudur, sebenarnya ke lokasi candi bisa saja jalan kaki tapi siap-siap gempor. Kami memutuskan naik delman. Disini sudah dipatok harga, untuk delman 15 ribu rupiah per delman dan kalau naik becak 10 ribu rupiah.

Lima menit naik delman, kami tiba di lokasi candi. Sebelum mengitari lokasi candi, kami makan siang dulu. Berhubung cuaca lumayan menyengat, saya sudah mempersiapkan sunblock untuk melindungi kulit agar tidak terbakar matahari.

Tiket masuk ke Borobudur 30 ribu per orang, dan kita harus mengenakan kain batik yang telah disediakan dan diikatkan di pinggang. Tujuannya mungkin untuk menghormati dan kesopanan. Berhubung long weekend, sekitaran candi dipenuhi oleh para pengunjung, bahkan banyak yang rombongan dari komunitas atau gathering (terlihat dari seragam kaos yang mereka kenakan).

Untung saya sedia payung, jadi tidak perlu beli topi yang dijajakan penjual yang rame mangkal di sekitar pintu masuk.  Kami berkeliling candi sambil menikmati suasana yang sejuk, udara yang segar dan mengagumi karya para leluhur ini. Sungguh luar biasa, dari setiap ukiran relief dan patung budha dan stupa yang ada setiap sudut candi, unsur agama Budha sangat terasa.

Di sekitar candi banyak pepohonan membuat suasana sangat sejuk, duduk dan rileks disini sangat tepat, sehingga tak terasa hari semakin sore. Kami segera beranjak ke terminal Borobudur sebelum bus terakhir datang, berhubung pengunjung rame, jadi banyak orang yang mengantri untuk naik bus, karena tidak kebagian bus setelah kami sampai di terminal, terpaksa kami menunggu bus yang lain, dan syukurlah tidak terlalu lama penantian itu, bus akhirnya datang juga dan mungkin itu bus terakhir.

Bus ini melaju sangat kencang, sampai saya agak deg-degan selama perjalanan, sungguh sangat menantang adrenalin niy si Pak supir. Tiba di terminal Jombor sudah malam dan saatnya mencari makan malam.

BAKMI KADIN

Berdasarkan rekomendasi teman, maka kami mencari dimanakah bakmi kadin berada. Setelah Tanya sana sini, akhirnya kami menemukannya. Bakmi kadin terkenal di Jogja, letaknya berada tidak jauh dari superindo gondokusuman. Tempatnya sederhana dan sudah berdiri sejak lama. Sesampainya disana ternyata sudah sangat ramai dan kami langsung berburu tempat duduk. Sembari menunggu pesanan makanan, kami berbincang sambil menikmati alunan lagu-lagu lawas yang disuguhkan secara live, penyanyi dan pemain musiknya juga lawas alias sudah kakek nenek. Lumayan lama kami menunggu makanan sampai benar-benar kelaparan karena memang perjalanan hari itu membuat perut lapar. Tidak hanya kami yang menunggu dan hampir kehilangan kesabaran, beberapa pengunjung yang lain malah akhirnya menunggu di depan juru masaknya (mungkin saking laparnya .. J).

Dengan 38 ribu rupiah kami akhirnya menikmati 1 bakti goring, 1 bakmi kuah dan 2 es teh manis. Menikmati bakmi dengan alunan lagu lawas seakan membawa kami ke zaman dulu, karena suasana dan tempat yang seperti tempo dulu. Suatu suguhan yang unik dan asli Jogja sekali menurut saya. Setelah selesai makan dan hari semakin larut, kami bergegas mencari becak untuk pulang ke kontrakan teman tempat kami menginap.

PRAMBANAN DAN KRATON RATU BOKO

Hari kedua kami di Jogja.

Candi prambanan masih berada di sekitar kota Jogja sehingga untuk mencapai lokasi candi tidak terlalu susah dan lama. Berangkat dari kontrakan naik bus transJogja sampai halte prambanan. Sekitar 30-45 menit kami tiba dan mencari sarapan pagi. Setelah kenyang, kami langsung menuju lokasi candi naik becak dengan membayar 10 ribu rupiah.

Di loket masuk prambanan, ternyata ada 2 jenis tiket yaitu tiket untuk masuk candi prambanan saja 30 ribu rupiah per orang dan tiket paketan untuk prambanan-kraton ratu boko 45 ribu rupiah per orang, dan kami memilih tiket yang paketan.

Untuk menuju kraton ratu boko sudah disediakan mobil antar jemput oleh pihak pengelola, dan mobil ini beroperasi sampai pukul 15.00. Lokasi kraton ratu boko berada di bukit yang tinggi dan melalui sawah dan rumah penduduk. Kami memilih untuk berangkat ke kraton ratu boko terlebih dahulu, baru ke candi prambanan.

Tidak lama kami menunggu mobil segera datang, tidak hanya kami, banyak juga pengunjung yang ngantri bersama kami. Sekitar 10 menit perjalanan akhirnya kami tiba di kraton ratu boko dengan suasana yang sejuk dan sangat asri.

Suasana di kawasan kraton ratu boko ini sangat berbeda, udara yang sejuk, angin sepoi-sepoi menyamankan hati dan perasaan magis sangat terasa. Menyusuri puluhan anak tangga dan lapangan yang luas dan tertata rapi dan bersih. Masuk ke kawasan ratu boko seakan masuk ke lorong waktu menuju sekian abad yang lalu, begitu sejarah masa lalu sangat kental di tempat ini.

Setelah berkeliling yang cukup lumayan berkeringat Karena cuaca yang sangat cerah dan kawasan kraton yang luas, kami turun kembali ke pelataran parkir kraton dan menunggu jemputan oleh pihak pengelola prambanan. Karena ada beberapa rombongan yang juga turut menunggu jemputan, maka kami harus bersabar mengantri.

Selanjutnya, sesampainya kembali di prambanan, kami langsung bergegas ke kawasan candi prambanan. Dari kejauhan sudah tampak puncak-puncak candi yang tinggi dengan anggunnya. Seperti legenda yang sangat terkenal mengenai candi ini yaitu legenda roro jongrang, maka memang terlihat sampai sekarang hamparan candi yang cukup banyak mengelilingi candi induk. Sebagian candi memang sudah rusak akibat goncangan gempa tahun 2006 dan hanya terlihat tumpukan bebatuan candi.

Untuk naik ke candi induk saja, yaitu candi terbesar dari sekian banyak candi yang tersebar disekelilingnya, para pengunjung harus mengenakan helm yang disediakan oleh pihak pengelola, hal ini untuk menjaga keselamatan para pengunjung yang mungkin sewaktu-waktu ada runtuhan dari candi, karena candi memang dalam kondisi renovasi pasca gempa.

Setelah berkeliling dan mengagumi candi prambanan yang indah nan cantik, sebelum beranjak pulang kami menaiki kreta wisata dengan membayar 5 ribu rupiah per orang dan melewati candi candi yang lain di sekitaran komplek candi prambanan, seperti candi sewu yang sudah terlihat sangat rapuh termakan usia dan sebagian sudah hancur.

Sesampainya di pintu keluar, tidak lupa kami mengambil foto dari fotografer keliling yang menjajakan jasanya di sekitar candi. Karena capek berkeliling, kami istirahat sebentar di pendopo yang ada di taman dekat jalan keluar dan bersyukur bisa menikmati hasil karya leluhur yang sangat luar biasa ini.

Post Navigation

Leave a Reply