Dataran Tinggi Dieng

Awal Maret 2013 yang lalu saya dan Debo ikut Anu menghabiskan masa liburan di desa Purworejo kecamatan Banjarnegara, Jawa Tengah. Misi kami saat itu tentu saja tidak hanya ingin berdiam diri di desa nan asri itu. Tentu sudah tersohor ke penjuru negeri mengenai wisata alam Dataran Tinggi Dieng yang merupakan salah satu masuk dalam program Visit Jateng.

Kami berangkat jumat malam menggunakan bus pahala dari grogol. Di tiket siy jadwal keberangkatan pkl. 18.00 tapi entah kenapa yaah mungkin macet karena memang saat itu long weekend dan kemacetan terjadi dimana-mana, maka kami baru berangkat pkl. 21.00.

Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dan tidur karena kecapekan, tidur dengan pulas sampai tak terasa ternyata bus berhenti di pertengahan jalan, itu sekitar pkl 01.00 dini hari, kami berhenti ternyata untuk makan, sudah disediakan makan prasmanan seadanya. Takut perut kosong dan masuk angin, kami makan secukupnya. Setelah istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan kembali.

Sungguh sepanjang perjalanan memang bener-bener macet dan ramai kendaraan sehingga perjalanan agak lama. Kami menikmati sunrise di balik gunung nan jauh disana. Sangat elok dan cantik dengan sinar mentari yang perlahan meninggi. Hari sudah berganti dan kami masih di jalan.

Pkl. 90.30 akhirnya kami tiba di Purworejo dan langsung ke rumah kakaknya Anu. Ternyata desa ini desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas sejauh mana memandang. Indah sekali dengan sawah yang bertingkat dan susunan rumah yang rapi.

Kami beristirahat sejenak dan langsung berangkat ke Dieng. Perjalanan yang di tempuh ternyata hampir sekitar 1,5 jam dengan hujan rintik-rintik. Awalnya saya khawatir liburan akan kurang mengasyikkan dengan hujan yang melanda, namun ternyata di sekitar Dataran Dieng ini memang sering rintik-rintik namun hanya begitu saja tidak sampai hujan deras.

desa yang selalu diselimuti kabut

Mulai memasuki kawasan berbukit, saya sempat tercengang, pemandangan yang sangat indah. Suasana pedesaan sangat terasa dengan hamparan perladangan yang disusun rapi sekali sampai ke puncak bukit. Semua bukit sampai dibabat habis dengan tanaman yang beraneka jenis. Dan ini sangat menakjubkan. Sepanjang perjalanan pemandangan ini akan menjadi suguhan yang istimewa sebelum mencapai kawasan kawah dan objek wisata lainnya.

Objek yang pertama kami datangi adalah sumur jalatunda. Untuk masuk kawasan sumur jalatunda harus beli tiket seharga 5ribu rupiah per orang. Menuju sumur jalatunda kami menaiki tangga yang lumayan tinggi dan sesampainya diatas, kami menemukan dua orang warga lokal yang siap dengan batu-batu kecilnya.. dan ternyata mereka memang penjual batu-batu kecil.. hehe..

Sumur Jalatunda

Jadi, mitosnya dan kepercayaan masyarakat disini, kalau cewek melempar batu kecil itu mencapai tengah sumur maka permohonannya akan terkabul. Kalau untuk cowok lebih jauh lagi, sampai pojok sumur sampai ke bunga warna ungu di bawah sana..

Satu batu dibandrol 500 rupiah, awalnya saya pikir gampang, tapi ternyata setelah beberapa kali dicoba tetap gagal mencapai tepat di tengah subur jalatunda, hahaa.. yaah, percaya tidak percaya inilah keyakinan masyarakat disini.

Tidak banyak yang kami lakukan di tempat itu, kami pergi ke spot selanjutnya. Bagi yang ingin ke Dataran Tinggi Dieng ini, sangat disarankan membawa atau menyewa motor atau mobil karena jarak dari  satu objek ke objek yang lain lumayan jauh.

kawah sileri

Akhirnya kami sampai di kawah sileri. Kawah ini dikelilingi perladangan warga, jadi ketika kami mendekati kawah ini ya melewati ladang, tapi sudah dibuatkan jalan sehingga tidak mengganggu tanaman warga. Kawah ini sedang surut jadi dipinggirannya kering.

Selanjutnya kami menuju komplek candi arjuna dan kawah sikidang. Gerbang masuknya satu dan tiket masuk 35ribu rupiah per orang.

komplek candi arjuna

Di sekitar komplek candi arjuna, ada juga candi-candi lain disekitarnya, tapi saya lupa nama-nama candinya hehee.. kawasan ini luas dan membuat mata bebas memandang. Enak sekali untuk bersantai di sekitar rerumputan yang hijau dipinggiran candi.

candi

Ketika kami ke kawah sikidang, saya tidak menyangka kawah ini luas dan mengeluarkan asap dan aroma belerang yang sangat menyengat. Airnya mendidih dan mengeluarkan suara gemuruh. Tidak diperbolehkan berlama-lama di kawah ini, lagi pula tidak akan tahan juga berlama-lama karena bau belerang yang tak terkendali, hahaha..

kawah sikidang

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat menikmati manisan carica yang merupakan makanan khas Dieng. Pohon dan buah carica mirip sekali dengan pohon pepaya, cuma buah carica jauh lebih kecil dari buah pepaya. Rasa manisan carica sangat khas dan segar, baru kali itu saya mencobanya.

Selanjutnya kami menuju telaga warna, namun hari sudah mulai sore dan agak mendung. Tiket masuk seharusnya 7ribu rupiah per orang, namun kami dikasi diskon jadi 15ribu rupiah saja bertiga. Karena sudah sore, kami tidak naik ke atas bukit utara telaga untuk menikmati cantiknya telaga warna bersanding dengan telaga pengilon.

telaga warna

Kami berjalan disekeliling telaga warna sambil mendengarkan cerita dari seorang guide yang bersedia menemani kami. Di sekitar telaga ini juga terdapat beberapa gua yang katanya masih berhawa mistis, dan itu sangat terasa ketika melewati sekitarnya.

Setelah puas berkeliling, kami memutuskan kembali ke Purworejo melalui Wonosobo. Mobil melaju kencang menuruni perbukitan yang berkelok. Dan ketika masih diatas kami bisa melihat awan kabut yang sudah menyelimuti perkampungan dibawahnya, serasa berada diatas awan.. haha…

Post Navigation

Leave a Reply